Dinsos Makassar Ciptakan Peluang Baru bagi Anak Jalanan dan Gepeng

  • Bagikan
banner 468x60

MEDIACREATIVE.ID – MAKASSAR,- Upaya Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Sosial (Dinsos) dalam mengurangi jumlah anak jalanan dan gelandangan-pengemis (gepeng) menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Rumah Perlindungan dan Trauma Centre (RPTC) Dinsos Makassar, jumlah penerima layanan rehabilitasi sosial dari kedua kelompok tersebut menurun signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Kepala UPT RPTC Dinas Sosial Kota Makassar, Masri, menekankan bahwa sebelum melihat data, perlu dipahami terlebih dahulu kategorisasi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang hidup dan beraktivitas di jalan.

Example 300x600

“Pembedaan kategori ini penting agar kami dapat menemukan formula rehabilitasi sosial yang tepat,” ujar Masri, Jumat (31/10).

PPKS yang beraktivitas di jalan terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu anak jalanan (anjal) dengan rentang usia 1 hari hingga 18 tahun, serta gelandangan-pengemis (gepeng) berusia 18 hingga 60 tahun. Anak jalanan sendiri diklasifikasikan lebih lanjut menjadi tiga kategori berdasarkan usia, yaitu balita (1 hari–5 tahun), usia sekolah (di atas 5–15 tahun), dan usia produktif (di atas 15–18 tahun).

BACA JUGA:  Idul Adha 1445 H, Pegadaian Kanwil Makassar Potong & Bagikan 107 Ekor Hewan Qurban

“Klasifikasi ini penting agar program rehabilitasi sosial yang kami lakukan bisa tepat sasaran sesuai kebutuhan masing-masing kelompok,” jelas Masri.

Masri menambahkan, untuk mencegah anak jalanan dan gepeng kembali ke jalan, Dinsos Makassar mengembangkan sejumlah program pemberdayaan yang bersifat berkelanjutan dan menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial mereka.

“Program-program tersebut dirancang tidak hanya untuk memberi bantuan sementara, tetapi juga untuk mengubah pola pikir dan kemandirian para penerima manfaat. Tujuan utama kami bukan sekadar menertibkan anak jalanan atau gepeng dari ruang publik, tetapi memastikan mereka punya arah hidup yang lebih baik,” sambungnya.

Salah satu langkah utama adalah mengembalikan anak jalanan tidak sekolah (ATS) maupun putus sekolah (APS) ke bangku pendidikan formal, sehingga frekuensi mereka turun ke jalan berkurang dan peluang masa depan terbuka lebih lebar.

“Selain itu, bagi anak-anak yang terindikasi mengalami eksploitasi dari keluarganya, Dinsos berupaya menyalurkan mereka ke sekolah berasrama (boarding school) dengan persetujuan keluarga, agar mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman dan mendukung,” sebut Masri.

BACA JUGA:  Dinilai Komitmen Tinggi Terhadap Keterbukaan Informasi, Tim Monev Puji Diskominfo Makassar Saat Ikuti Uji KIP

Program pemberdayaan juga mencakup pelatihan keterampilan bagi anak jalanan usia produktif (15–18 tahun) dan gepeng. Jenis pelatihan disusun agar mudah diterapkan secara mandiri dan memiliki nilai ekonomi, antara lain tata boga, tata rias, servis HP, servis AC, pembuatan papan ucapan, hingga pembuatan buket bunga.

“Pelatihan kami rancang agar sesuai dengan potensi lokal dan kebutuhan pasar. Harapannya, setelah pelatihan, mereka bisa mandiri secara ekonomi, entah dengan membuka usaha sendiri atau bekerja di sektor UMKM,” ucap Masri.

Tak hanya itu, Dinsos juga melaksanakan program bantuan warung bagi anjal atau gepeng yang memiliki usaha kecil seperti warung kelontong, berupa bantuan barang dagangan atau isi toko untuk memperkuat usaha mereka.

Meski capaian positif telah terlihat, Masri mengakui masih banyak tantangan dalam proses rehabilitasi dan pemberdayaan sosial.

“Yang paling berat adalah kemauan untuk berubah. Banyak dari mereka menganggap jalanan sebagai tempat paling mudah untuk mencari uang. Selain itu, masih banyak pengguna jalan yang memberi uang langsung, berpikir itu sedekah, padahal justru membuat anak-anak ini tetap bertahan di jalan. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah keterbatasan lapangan kerja yang sesuai dengan keterampilan mereka,” terang Masri.

BACA JUGA:  Munafri Arifuddin Tegaskan Komitmen Sinergi dengan Pemprov Sulsel di Bawah Kepemimpinan Andi Sudirman-Fatmawati

Dinsos Makassar berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor agar program pemberdayaan sosial ini berkelanjutan.

“Kami berharap dukungan masyarakat dan dunia usaha agar upaya ini bisa mencapai hasil maksimal dan berkelanjutan,” tutup Masri.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *