Job Fit Digelar Tiga Hari, 40 Pejabat Eselon II Makassar Jalani Penilaian

  • Bagikan
banner 468x60

MEDIACREATIVE.ID – MAKASSAR,— Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mulai melaksanakan uji kesesuaian dan kompetensi atau job fit terhadap pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) untuk mengevaluasi kinerja sekaligus mengoptimalkan penempatan kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Diketahui, ada tujuh tim seleksi (Timsel) bertugas melakukan uji kesesuaian dan kompetensi atau job fit terhadap pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) lingkup Pemkot Makassar.

Example 300x600

Mereka masing-masing Ketua Timsel Andi Zulkifly sekaligus Sekda Makassar, Kepala Inspektorat Sulsel Marwan Mansyur, Ketua Tim Ahli Pemkot Makassar Andi Hudly Huduri, Prof Aswanto, Prof Batara, Prof Idris, Prof Amir Ilyas.

Sekretaris Daerah (Sekda) Makassar, Andi Zulkifly, mengatakan job fit tersebut dilaksanakan selama tiga hari dengan dua metode penilaian, yakni wawancara dan penelusuran rekam jejak.

“Ini dalam rangka mengevaluasi kerja-kerja kepala SKPD, kemudian menyesuaikan atau mengoptimalkan kerja-kerja OPD dalam rangka pelaksanaan program-program prioritas dan program-program lain yang sudah ditetapkan oleh kota,” kata Andi Zulkifly saat ditemui di Kantor Balai Kota Makassar, Rabu (19/8).

BACA JUGA:  Intensifkan Upaya Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, Kadis Sosial Makassar Rakor Bersama Sekda

Ketua Tim Seleksi ini juga menjelaskan, dua hari pertama difokuskan pada proses wawancara, sedangkan hari ketiga digunakan untuk menelusuri rekam jejak seluruh peserta.
Sebanyak 40 pejabat mengikuti proses tersebut. Jumlah itu berasal dari 42 posisi Eselon II, dengan dua jabatan yang masih kosong, yakni Asisten I dan Kepala Dinas Ketenagakerjaan Makassar.

Proses wawancara melibatkan tujuh orang panitia seleksi (pansel). Setiap peserta diwawancarai oleh tiga anggota pansel.

“Panselnya ada tujuh dan alhamdulillah tadi berjalan dengan lancar. Pesertanya ada 40. Satu peserta diwawancarai oleh tiga orang dari pansel,” ujarnya.

Dalam wawancara, sambung mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar ini terdapat sejumlah indikator yang menjadi bahan penilaian. Di antaranya kinerja dan dampaknya terhadap program prioritas, pengawasan dan pembinaan, pelaksanaan inovasi, serta realisasi anggaran.

Menurut Zulkifly, peserta juga diberikan ruang untuk menyampaikan inovasi yang telah dilakukan, tantangan dalam menjalankan tugas, serta kesesuaian dengan jabatan yang saat ini diemban.

“Jadi kami tanya bagaimana inovasi yang dibuat, realisasi anggaran, apa tantangannya, kemudian apakah peserta merasa cocok di posisi itu atau ada keinginan untuk pindah, dan kira-kira cocoknya ke mana. Itu menjadi bahan untuk disampaikan kepada Pak Wali,” jelasnya.

BACA JUGA:  Sengketa Lahan Tak Kunjung Usai, Warga Minta Kepastian Hukum ke Sekda Makassar

Selain wawancara, rekam jejak peserta akan ditelusuri dari sisi administrasi, termasuk jenjang jabatan, pengalaman kerja, dan pangkat.
Pada tahap akhir, pansel akan menyusun laporan yang memuat hasil penilaian dan rekomendasi. Setiap anggota pansel juga memberikan nilai serta catatan terhadap peserta.

Zul–sapaan akrabnya–menyebut terdapat pemeringkatan dalam proses penilaian dan menjadi bahan pertimbangan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam menentukan penempatan pejabat.

“Ada penilaian, ada nilai, kemudian ada catatan untuk rekomendasi. Itu akan menjadi bahan pertimbangan Pak Wali Kota,” katanya.

Setelah seluruh tahapan selesai, hasil job fit akan diserahkan kepada Wali Kota untuk selanjutnya dilakukan pemetaan dan penentuan penempatan kepala SKPD sesuai kebutuhan organisasi.

“Pak Wali nanti rapat lagi dengan membawa bahan tersebut. Kemudian dilihat, oh ini cocok di sini, ini cocok di sini. Jadi pemetaannya ada di Pak Wali,” pungkas Zulkifly. (*)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *